Non-Inverting Adder Amplifier
Non-Inverting
Adder Amplifier adalah rangkaian elektronik yang menggunakan Operational
Amplifier (Op-Amp) untuk menggabungkan beberapa sinyal masukan dengan tegangan
yang berbeda menjadi satu sinyal keluaran. Rangkaian ini juga dikenal sebagai
summing amplifier atau adder.Aplikasi umum Non-Inverting Adder Amplifier adalah
dalam rekaman musik dan aplikasi penyiaran, di mana beberapa sinyal mikrofon
digabungkan menjadi satu sinyal stereo (kiri dan kanan).
Jadi,
Non-Inverting Adder Amplifier adalah alat yang memungkinkan kita untuk
menggabungkan sinyal-sinyal tegangan menjadi satu sinyal keluaran dengan fase
yang sama.
1. Untuk
memenuhi tugas mata kuliah Elektronika yang diberi oleh Bapak Dr. Darwison, M.T
2.
Memahami prinsip kerja dan pengaplikasian Non-Inverting Adder Amplifier
3.
Mengetahui variasi penggunaan op amp sebagai non inverting amplifier.
4. Mampu mensimulasikan rangkaian proteus
BAHAN
a). Op Amp
Operasional
amplifier atau yang lebih sering disebut op amp merupakan suatu komponen
elektronika analog yang berfungsi sebagai penguat atau amplifier multiguna yang
diwujudkan dalam sebuah IC op amp. Penguat ini mempunyai dua buah masukan yaitu
input inverting dan input non inverting serta satu buah keluaran
(output).
b). Resistor
Resistor adalah sebuah komponen
elektronika yang terdiri dari dua pin yang berfungsi sebagai alat untuk
mengatur tegangan listrik dan arus listrik. Simbol resistor dilambangkan
dengan huruf R dan satuan resistor adalah ohm (Ω).
ALAT
a). Osiloskop
Osiloskop adalah alat ukur elektronik yang dapat
digunakan untuk memproyeksikan frekuensi dan sinyal listrik. Proyeksi
frekuensi dan sinyal listrik tersebut dinyatakan dalam bentuk grafik. Terdapat
dua sumbu dalam grafik tersebut yaitu sumbu X dan sumbu Y. Sumbu X menyatakan
satuan waktu, sedangkan sumbu Y menyatakan nilai tegangan.
b). Voltmeter
Voltmeter AC adalah alat pengukur listrik yang digunakan
untuk mengukur tegangan listrik AC (Arus Bolak-Balik). Voltmeter AC digunakan
untuk mengukur tegangan yang berubah-ubah dengan frekuensi yang berbeda-beda.
c). AC
Power Supply
AC power
supply berfungsi memberikan tegangan AC pada rangkaian.
Rangkaian
Adder atau penjumlahan sinyal dengan OP-AMP
adalah
konfigurasi OP-AMP sebagai penguat dengan diberikan input lebih dari satu untuk
menghasilkan sinyal output yang linear sesuai dengan nilai penjumlahan sinyal
input dan faktor penguatan yang ada.
Pada umumnya rangkaian adder adalah rangkaian penjumlah dasar yang
disusun dengan penguat inverting atau non-inverting yang diberikan input lebih
dari 1 line.
Rangkaian Adder/Penjumlahan Non-Inverting atau
disebut Non-Inverting Adder Amplifier memiliki penguatan
tegangan yang tidak melibatkan nilai resistansi input yang digunakan. Oleh
karena itu pada penjumlahan non-inverting nilai resistor input (R1, R2, R2)
sebaiknya bernilai sama persis, hal ini bertujuan untuk mendapatkan kestabilan
dan akurasi penjumlahan sinyal yang diberikan ke rangkaian.
Pada rangkaian Non-Inverting Adder Amplifier, sinyal input (V1, V1,
V3) diberikan ke jalur input melalui resistor input masing-masing (R1, R2,
R3). Besarnya penguatan tegangan (Av) pada rangkaian penguat
penjumlahan Non-Inverting diatas diatur oleh resistor feedback (Rf) dan
resistor inverting (Ri), sehingga dapat dirumuskan dengan :
Teori mengenai
rangkaian Non-Inverting Adder Amplifier dengan menggunakan teorema
superposisi :
- Anggap
jika Va berjalan sendiri, Vb = 0
- Anggap
jika Vb berjalan sendiri, Va = 0
- Maka nilai dari V1 adalah
- Diketahui bahwa nilai Vo
= Va + Vb , maka untuk pembuktiannya :
Misalkan
Ra = Rb = R
Misalkan
Rf = Ri = R
Nilai Tegangan Output adalah sebesar Vo = Av.Vin
Karena
nilai Vin = V1
- Maka
Nilai dari Vo = Va + Vb inilah yang disebut sebagai Adder
Dengan diketahuinya nilai penguatan
tegangan pada rangkaian penjumlahan non-inverting tersebut dapat dirumuskan
besarnya tegangan output (Vout) rangkaian. Secara matematis rumus dari Vout :
Rangkaian adder/penjumlahan
non-inverting ini jarang digunakan dalam aplikasi rangkaian elektronika, karena
nilai outputnya adalah hasil kali rata-rata tegangan input dengan faktor
penguatan (Av) sehingga nilai penjumlahan tegangan merupakan hasil rata-rata
sinyal input dan penguatan tegangan belum sesuai dengan kaidah
penjumlahan.
- RESISTOR
SIMBOL :
Resistor adalah komponen elektronika pasif yang memiliki
nilai resistansi atau hambatan tertentu yang berfungsi untuk membatasi dan
mengatur arus listrik dalam suatu rangkaian elektronika (v=i r).
Jenis resistor yang digunakan disini adalah fixed
resistor, dimana merupakan resistor dengan nilai tetap terdiri dari film
tipis karbon yang diendapkan subtrat isolator kemudian dipotong berbentuk
spiral. Keuntungan jenis fixed resistor ini dapat menghasilkan resistor dengan
toleransi yang lebih rendah.
Cara menghitung nilai resistor:
Tabel warna
Contoh :
Gelang ke
1 : coklat = 1
Gelang ke
2 : hitam = 0
Gelang ke
3 : hijau = 5 nol dibelakang angka gelang ke-2; atau kalikan 105
Gelang ke 4 : perak = toleransi 10%
Maka nilai resistor tersebut adalah 10 * 105 = 1.000.000
ohm atau 1 mohm dengan toleransi 10%.
- DIODA
Spesifikasi
Dioda adalah komponen yang terbuat dari bahan
semikonduktor dan mempunyai fungsi untuk menghantarkan arus listrik ke satu
arah tetapi menghambat arus listrik dari arah sebaliknya. Sebuah dioda dibuat
dengan menggabungkan dua bahan semi-konduktor tipe-p dan semi-konduktor tipe-n.
Ketika dua bahan ini digabungkan, terbentuk lapisan kecil lain di antaranya
yang disebut depletion layer. Ini karena lapisan tipe-p memiliki hole berlebih
dan lapisan tipe-n memiliki elektron berlebih dan keduanya mencoba berdifusi satu
sama lain membentuk penghambat resistansi tinggi antara kedua bahan seperti
pada gambar di bawah ini. Lapisan penyumbatan ini disebut depletion layer.
Ketika tegangan positif diterapkan ke anoda dan tegangan
negatif diterapkan ke katoda, dioda dikatakan dalam kondisi bias maju. Selama
keadaan ini tegangan positif akan memompa lebih banyak hole ke daerah tipe-p
dan tegangan negatif akan memompa lebih banyak elektron ke daerah tipe-n yang
menyebabkan depletion layer hilang sehingga arus mengalir dari anoda ke katoda.
Tegangan minimum yang diperlukan untuk membuat dioda bias maju disebut forward
breakdown voltage.
Jika tegangan negatif diterapkan ke anoda dan tegangan
positif diterapkan ke katoda, dioda dikatakan dalam kondisi bias terbalik.
Selama keadaan ini tegangan negatif akan memompa lebih banyak elektron ke
material tipe-p dan material tipe-n akan mendapatkan lebih banyak hole dari
tegangan positif yang membuat depletion layer lebih besar dan dengan demikian
tidak memungkinkan arus mengalir melaluinya. Kondisi ini hanya terjadi pada
dioda yang ideal, kenyataannya arus yang kecil tetap dapat mengalir pada bias terbalik
dioda.
Dioda dapat dibagi menjadi beberapa jenis:
1. Dioda
penyearah (dioda biasa atau dioda bridge) yang berfungsi sebagai penyearah arus
ac ke arus dc.
2. Dioda zener yang
berfungsi sebagai pengaman rangkaian dan juga sebagai penstabil tegangan.
3. Dioda led yang berfungsi
sebagai lampu indikator ataupun lampu penerangan.
4. Dioda photo yang
berfungsi sebagai sensor cahaya.
5. Dioda schottky yang
berfungsi sebagai pengendali.
Untuk menentukan arus zenner berlaku persamaan:
Keterangan:
Pada grafik terlihat bahwa pada tegangan dibawah ambang
batas tegangan mundur (reverse) sebuah dioda akan tembus (menghantar) dan tidak
bisa menahan lagi. Batas ini disebut dengan area tegangan breakdown dioda.
Kondisi dioda pada area ini adalah tembus atau menghantar dan tidak menghambat.
Kemudian pada level tegangan diantara tegangan breakdown dan tegangan forward
terdapat area tegangan reverse dan tegangan cut off. Pada area ini kondisi
dioda adalah menahan atau tidak mengalirkan arus listrik.
- TRANSISTOR
Transistor adalah sebuah komponen di dalam elektronika
yang diciptakan dari bahan-bahan semikonduktor dan memiliki tiga buah kaki.
Masing-masing kaki disebut sebagai basis, kolektor, dan emitor.
1. Emitor (e) memiliki fungsi untuk menghasilkan elektron
atau muatan negatif.
2. Kolektor (c) berperan sebagai saluran bagi muatan
negatif untuk keluar dari dalam transistor.
3. Basis (b) berguna untuk mengatur arah gerak muatan
negatif yang keluar dari transistor melalui kolektor.
Berfungsi sebagai penguat, sebagai sirkuit pemutus dan
penyambung arus (switching), stabilisasi tegangan, dan modulasi
sinyal. Selain itu, transistor biasanya juga dapat digunakan sebagai
saklar dalam rangkaian elektronika. Jika ada arus yang cukup besar di kaki
basis, transistor akan mencapai titik jenuh. Pada titik jenuh ini transistor
mengalirkan arus secara maksimum dari kolektor ke emitor sehingga transistor
seolah-olah short pada hubungan kolektor-emitor. Jika arus base sangat kecil
maka kolektor dan emitor bagaikan saklar yang terbuka. Pada kondisi ini
transistor dalam keadaan cut off sehingga tidak ada arus dari kolektor ke
emitor.
Rumus-rumus
transistor:
Spesifikasi
:
- Bi-polar transistor
- Dc current gain (hfe) is 800
maximum
- Continuous collector current
(ic) is 100ma
- Emitter base voltage (vbe) is
> 0.6v
- Base current(ib) is 5ma
maximum
Konfigurasi
transistor
Konfigurasi
common base adalah konfigurasi yang kaki basis-nya di-ground-kan dan digunakan
bersama untuk input maupun output. Pada
konfigurasi common base, sinyal input dimasukan ke emitor dan sinyal
output-nya diambil dari kolektor, sedangkan kaki basis-nya di-ground-kan. Oleh
karena itu, common base juga sering disebut dengan istilah “grounded base”.
Konfigurasi common base ini menghasilkan penguatan tegangan antara sinyal input
dan sinyal output namun tidak menghasilkan penguatan pada arus.
Konfigurasi
common collector (cc) atau kolektor bersama memiliki sifat dan fungsi yang
berlawan dengan common base (basis bersama). Kalau pada common base
menghasilkan penguatan tegangan tanpa memperkuat arus, maka common collector
ini memiliki fungsi yang dapat menghasilkan penguatan arus namun tidak
menghasilkan penguatan tegangan. Pada konfigurasi common collector, input
diumpankan ke basis transistor sedangkan outputnya diperoleh dari emitor
transistor sedangkan kolektor-nya di-ground-kan dan digunakan bersama untuk
input maupun output. Konfigurasi kolektor bersama (common collector) ini
sering disebut juga dengan pengikut emitor (emitter follower) karena tegangan
sinyal output pada emitor hampir sama dengan tegangan input basis.
Konfigurasi common emitter (ce) atau emitor bersama
merupakan konfigurasi transistor yang paling sering digunakan, terutama pada
penguat yang membutuhkan penguatan tegangan dan arus secara bersamaan. Hal ini
dikarenakan konfigurasi transistor dengan common emitter ini menghasilkan
penguatan tegangan dan arus antara sinyal input dan sinyal output. Common
emitter adalah konfigurasi transistor dimana kaki emitor transistor
di-ground-kan dan dipergunakan bersama untuk input dan output. Pada konfigurasi
common emitter ini, sinyal input dimasukan ke basis dan sinyal output-nya
diperoleh dari kaki kolektor.
- OP AMP 741
Op-amp
adalah salah satu dari bentuk ic linear yang berfungsi sebagai penguat sinyal
listrik. Sebuah op-amp terdiri dari beberapa transistor, dioda,
resistor dan kapasitor yang terinterkoneksi dan terintegrasi sehingga
memungkinkannya untuk menghasilkan gain (penguatan) yang tinggi pada rentang
frekuensi yang luas. Dalam bahasa indonesia, op-amp atau operational amplifier
sering disebut juga dengan penguat operasional.
Karakteristik penguat ideal adalah:
- Gain
sangat besar (aol >>). Penguatan open loop adalah sangat besar
karena feedback-nya tidak ada atau rf = tak terhingga, serta pada
rentang frekuensi yang luas.
- Impedansi
input sangat besar (zi >>). Impedansi input adalah sangat besar
sehingga arus input ke rangkaian dalam op-amp sangat kecil sehingga
tegangan input sepenuhnya dapat dikuatkan.
- Impedansi output sangat kecil
(zo <<).
Konfigurasi
pin 741:
Spesifikasi:
Respons karakteristik kurva i-o:
- Sensor MQ-2
Sensor MQ-2 berfungsi untuk mendeteksi keberadaan asap
yang berasal dari gas mudah terbakar di udara. Pada dasarnya sensor ini terdiri
dari tabung aluminium yang dikelilingi oleh silikon dan di pusatnya ada
elektroda yang terbuat dari aurum di mana ada element pemanasnya.
Ketika terjadi proses pemanasan, kumparan akan dipanaskan
sehingga SnO2 keramik menjadi semikonduktor atau sebagai penghantar sehingga
melepaskan elektron dan ketika asap dideteksi oleh sensor dan mencapai aurum
elektroda maka output sensor MQ-2 akan menghasilkan tegangan analog.
Spesifikasi sensor pada sensor gas MQ-2 adalah sebagai
berikut:
- Catu daya pemanas : 5V AC/DC
- Catu daya rangkaian : 5VDC
- Range pengukuran : 200 -
5000ppm untuk LPG, propane 300 - 5000ppm untuk butane 5000 - 20000ppm
untuk methane 300 - 5000ppm untuk Hidrogen
- Keluaran : analog (perubahan
tegangan)
konfigurasi
dari sensor MQ-S :
- Pin
1 merupakan heater internal yang terhubung dengan ground.
- Pin
2 merupakan tegangan sumber (VC) dimana Vc < 24 VDC.
- Pin
3 (VH) digunakan untuk tegangan pada pemanas (heater internal) dimana VH =
5VDC.
- Pin
4 merupakan output yang akan menghasilkan tegangan analog.
Berdasarkan grafik diatas, dapat
dilihat bahwa konsentrasi minimum yang dapat diuji adalah 100ppm dan
maksimumnya 10000ppm atau konsentrasi gasnya antara 0.01% dan 1%. Namun,
rumusnya tidak dapat ditentukan karena hubungan grafik antara rasio dan
konsentrasi adalah nonlinear.
- Sound Sensor
Sensor Suara adalah sensor yang memiliki cara kerja
merubah besaran suara menjadi besaran listrik. Pada dasarnya prinsip kerja pada
alat ini hampir mirip dengan cara kerja sensor sentuh pada perangkat seperti
telepon genggam, laptop, dan notebook. Sensor ini bekerja berdasarkan besar
kecilnya kekuatan gelombang suara yang mengenai membran sensor yang menyebabkan
bergeraknya membran sensor yang memiliki kumparan kecil dibalik membran
tersebut naik dan turun. Kecepatan gerak kumparan tersebut menentukan kuat lemahnya
gelombang listrik yang dihasilkannya.
Salah satu komponen yang termasuk dalam sensor ini adalah
Microphone atau Mic. Mic adalah komponen eletronika dimana cara kerjanya yaitu
membran yang digetarkan oleh gelombang suara akan menghasilkan sinyal listrik.
Mic dapat diklarifikasikan menjadi beberapa jenis dasar
antara lain; dinamis, piezoelektrik, dan elektrostatik. Mic dinamis adalah
contoh alat yang memiliki sensor suara dengan peran yang besar dalam
dunia industri musik. Sedangkan untuk Mic piezoelektrik digunakan secara luas
untuk mic dengan meter rendah tingkat frekuensi suara. Untuk masalah
pengukuran, mic elektrostatik adalah yang paling populer karena mereka dapat
dirampingkan, memiliki ffrekuensi respon konsekuensi rata selama rentang frekuensi
yang luas, dan menyediakan nyata stabilitas yang tinggi dibandingkan dengan mic
jenis lain. Intensitas suara mic ini dirancang untuk menangkap intensitas suara
bersama dengan unit arah aliran sebagai besaran vektor. Bila dilihat dari
intensitas bunyi, mic dibagi menjadi dua jenis, yaitu arang dan capasitor.
Diperlukan bebrapa komponen dalam pembuatan sensor suara.
Komponen yang diperlukan sangat mudah ditemukan dan memiliki harga yang
terjangkau. Komponen-komponen yang dibutuhkan antara lain; resistor memiliki
dua saluran yang fungsinya untuk menahan arus listrik dengan memproduksi
penurunan tegangan diantara dua salurannya sesuai dengan arus, kondensator,
trimpot memiliki hambatan listrik yang dapat diubah-diubah dengan cara memutar
porosnya, dioda adalah bahan semikonduktor yang dapat menghantar arus listrik
pada satu arah saja, IC (Intergrated Circuit) atau sirkuit, kondensator mic,
LED untuk mengeluarkan emisi cahaya, timah, solder, kabel secukupnya dan
lain-lain.
Pin OUT
Spesifikasi
- Working voltage: DC
3.3-5V
- Dimensions: 45 x 17 x 9
mm
- Signal output
indication
- Single channel signal
output
- With the retaining bolt
hole, convenient installation
- Outputs low level and
the signal light when there is sound
Grafik
Respons Sensor Sound
Sensor suara merupakan module sensor yang mensensing
besaran suara untuk diubah menjadi besaran
listrik yang akan dioleh mikrokontroler.
- Sensor PIR
Sensor PIR atau disebut juga dengan Passive Infra
Red merupakan sensor yang digunakan untuk mendeteksi adanya pancaran sinar
infra merah dari suatu object. Sesuai dengan namanya sensor PIR bersifat pasif,
yang berarti sensor ini tidak memancarkan sinar infra merah melainkan hanya
dapat menerima radiasi sinar infra merah dari luar. Sensor PIR terdiri dari beberapa
bagian yaitu :
- Fresnel
Lens -->Lensa Fresnel pertama kali digunakan pada tahun 1980an.
Digunakan sebagai lensa yang memfokuskan sinar pada lampu mercusuar.
Penggunaan paling luas pada lensa Fresnel adalah pada lampu depan mobil,
di mana mereka membiarkan berkas parallel secara kasar dari pemantul
parabola dibentuk untuk memenuhi persyaratan pola sorotan utama.
- IR
Filter -->IR Filter dimodul sensor PIR ini mampu menyaring panjang
gelombang sinar infrared pasif antara 8 sampai 14 mikrometer, sehingga
panjang gelombang yang dihasilkan dari tubuh manusia yang berkisar antara
9 sampai 10 mikrometer ini saja yang dapat dideteksi oleh sensor. Sehingga Sensor PIR hanya
bereaksi pada tubuh manusia saja.
- Pyroelectric Sensor
-->Seperti tubuh manusia yang memiliki suhu tubuh kira-kira 32 derajat
celcius, yang merupakan suhu panas yang khas yang terdapat pada
lingkungan. Pancaran sinar inframerah inilah yang kemudian ditangkap
oleh Pyroelectric sensor yang merupakan inti dari sensor PIR ini
sehingga menyebabkan Pyroelectic sensor yang terdiri
dari galium nitrida, caesium nitrat dan litium
tantalate menghasilkan arus listrik.
- Amplifier -->Sebuah sirkuit
amplifier yang ada menguatkan arus yang masuk pada material pyroelectric.
- Komparator-->Setelah
dikuatkan oleh amplifier kemudian arus dibandingkan oleh komparator
sehingga mengahasilkan output.
Spesifikasi
sensor PIR
- Input Voltage: DC 4.5-20V
- Static current: 50uA
- Output signal: 0,3V (Output
high when motion detected)
- Sentry Angle: 110 degree
- Sentry Distance: max 6/7 m
- Shunt for setting overide
trigger: H - Yes, L - No
- Relay
Relay
adalah Saklar (Switch) yang dioperasikan secara listrik dan merupakan komponen
Electromechanical (Elektromekanikal) yang terdiri dari 2 bagian utama yakni
Elektromagnet (Coil) dan Mekanikal (seperangkat Kontak Saklar/Switch). Relay
menggunakan Prinsip Elektromagnetik untuk menggerakkan Kontak Saklar sehingga
dengan arus listrik yang kecil (low power) dapat menghantarkan listrik yang
bertegangan lebih tinggi. Sebagai contoh, dengan Relay yang menggunakan
Elektromagnet 5V dan 50 mA mampu menggerakan Armature Relay (yang berfungsi
sebagai saklarnya) untuk menghantarkan listrik 220V 2A.
Dibawah ini adalah gambar bentuk Relay dan Simbol Relay
yang sering ditemukan di Rangkaian Elektronika.
Spesifikasi
Konfigurasi pin
Relay merupakan
komponen listrik yang mempunyai 2 bagian yaitu, kumparan dan poin. Secara garis
besar relay berfungsi untuk mengendalikan dan mengalirkan listrik.
Prinsip kerja Relay
Pada dasarnya, Relay terdiri dari 4 komponen dasar
yaitu :
1.
Electromagnet (Coil)
2. Armature
3.
Switch Contact Point (Saklar)
4.
Spring
Berikut ini merupakan gambar dari bagian-bagian Relay:
Kontak
Poin (Contact Point) Relay terdiri dari 2 jenis yaitu :
§ Normally
Close (NC) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi
CLOSE (tertutup)
§ Normally
Open (NO) yaitu kondisi awal sebelum diaktifkan akan selalu berada di posisi
OPEN (terbuka)
Berdasarkan gambar diatas, sebuah Besi (Iron Core) yang
dililit oleh sebuah kumparan Coil yang berfungsi untuk mengendalikan Besi
tersebut. Apabila Kumparan Coil diberikan arus listrik, maka akan timbul gaya
Elektromagnet yang kemudian menarik Armature untuk berpindah dari Posisi
sebelumnya (NC) ke posisi baru (NO) sehingga menjadi Saklar yang dapat
menghantarkan arus listrik di posisi barunya (NO). Posisi dimana Armature
tersebut berada sebelumnya (NC) akan menjadi OPEN atau tidak
terhubung. Pada saat tidak dialiri arus listrik, Armature akan kembali
lagi ke posisi Awal (NC). Coil yang digunakan oleh Relay untuk menarik
Contact Poin ke Posisi Close pada umumnya hanya membutuhkan arus listrik yang
relatif kecil.
1. Buka
aplikasi Proteus
2. Pilih komponen yang dibutuhkan, pada rangkaian ini
dibutukan komponen Relay, Motor DC, Sensor LM35, LED, Transistor NPN
BC548, Octocoupler, Resistor, Op amp, Potensiometer, dan Mosfet
3. Rangkai setiap komponen menjadi rangkaian yang
diinginkan
4. Ubah spesifikasi komponen sesuai kebutuhan
5. Jalankan simulasi rangkaian
6. Rangkaian Simulasi[Kembali]
1.)
Rangkaian Non-Inverting Adder Amplifier
Gambar
Rangkaian Non-Inverting Adder Amplifier
Prinsip
Kerja :
Tegangan
input pertama (V1) dan tegangan input kedua (V2) masing masing sebesar 15V
dirangkai secara parallel melalui hambatan input R1 dan R2 yang masing masing
bernilai 10k ohm menuju titik sambungan yang sama yang terhubung dengan kaki
non inverting pada amplifier. Selanjutnya tegangan akan diperkuat oleh hubungan
antara hambatan umpan balik (Rf) yang bernilai 15k ohm dengan hambatan yang
terhubung ke kaki inverting dan ground (Ri atau Rs) yang bernilai 15k
ohm. Hasil tegangan output (Vo) yang dihasilkan dapat dihitung
dengan rumus berikut,
Sehingga diperoleh tegangan output (Vo) yang dihasilkan
adalah sebesar 30V dan sefasa dengan tegangan input.
Aplikasi
rangkaian non inverting adder amplifier [download]
rangkaian aplikasi [download]
[Klik untuk download File Simulasi Proteus]
[Klik untuk download Resistor Datasheet]
[Klik untuk download Motor DC Datasheet]
[Klik untuk download LM741 Datasheet]
[Klik untuk download HC SR501 PIR Senssor Datasheet]
[Klik untuk download Relay Datasheet]
[Klik untuk download LED Datasheet]
[Klik untuk download Buzzer Datasheet]
Komentar
Posting Komentar