chapter 13 (13.40 , 13.41)
Integrated
Circuits (ICs) adalah
komponen elektronik yang menggabungkan sejumlah besar elemen elektronik,
seperti transistor, resistor, dan kapasitor, dalam satu chip kecil untuk
menjalankan fungsi tertentu. Berdasarkan fungsinya,
IC
dapat dibagi menjadi dua kategori utama:
- Linear ICs berfungsi dalam rangkaian analog yang menghasilkan sinyal kontinu dan linier. Contoh dari linear ICs adalah Operational Amplifiers (Op-Amps), Voltage Regulators, Oscillators, dan Voltage Comparators. Sinyal yang dihasilkan atau diproses oleh Linear IC bersifat kontinu dan tidak terputus.
- Digital ICs berfungsi dalam rangkaian digital yang beroperasi dengan sinyal biner (0 dan 1). Digital ICs digunakan untuk mengatur logika, menghitung, dan mengolah sinyal yang berupa data dalam bentuk diskrit. Contoh dari Digital ICs adalah Logic Gates (AND, OR, NOT), Flip-Flops, Counters, dan Microcontrollers.
Perkembangan IC, baik linear maupun digital, memungkinkan pembuatan perangkat elektronik dengan fungsi yang semakin kompleks, namun tetap efisien dan ringkas. Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari dan mengimplementasikan aplikasi dari Linear-Digital ICs dalam berbagai rangkaian dan sistem.
- Mempelajari
prinsip kerja Linear dan Digital ICs, serta perbedaan karakteristik
keduanya.
- Mengidentifikasi
aplikasi dari Linear ICs, seperti Op-Amp dalam penguatan sinyal
analog, dan Digital ICs dalam sistem logika.
- Membuat
rangkaian sederhana menggunakan Linear ICs dan Digital ICs untuk
memahami aplikasinya dalam dunia elektronika.
- Melakukan
pengukuran dan pengamatan pada sinyal output dari rangkaian yang
menggunakan Linear dan Digital ICs untuk menguji kinerja dan fungsinya.
- Mengembangkan pemahaman tentang interaksi antara Linear dan Digital ICs dalam sistem elektronika yang kompleks.
1. Software Proteus
Proteus adalah perangkat lunak simulasi elektronik yang digunakan untuk merancang, menguji, dan memvisualisasikan rangkaian elektronik secara virtual. Software ini mendukung simulasi berbagai komponen, termasuk mikrokontroler, sehingga memudahkan pengguna dalam merancang dan menguji sistem tanpa perlu merakitnya secara fisik terlebih dahulu.
3. Op-Amp
Signal generator adalah alat yang menghasilkan berbagai jenis sinyal listrik, seperti gelombang sinusoidal, kotak, atau segitiga, dengan frekuensi dan amplitudo yang dapat diatur. Alat ini digunakan untuk menguji, mengkalibrasi, dan mensimulasikan perangkat elektronik dalam berbagai aplikasi, termasuk riset, pengembangan, dan pengujian sistem komunikasi serta rangkaian elektronik.
CHAPTER
13: LINEAR-DIGITAL ICS
Chapter
13 memperkenalkan sirkuit terintegrasi (IC) yang menggabungkan fungsi analog
dan digital. Fokus utama pada komparator, konverter analog-ke-digital
(ADC), konverter digital-ke-analog (DAC), dan aplikasi IC linier
seperti zero-crossing detector.
Komparator dijelaskan
sebagai Op-Amp yang bekerja tanpa feedback, menghasilkan output digital
(HIGH/LOW) berdasarkan perbandingan dua tegangan input. Aplikasinya mencakup
deteksi level tegangan dan zero-crossing detector (seperti
pada diskusi awal tentang IC 311).
Bagian konverter
data membahas prinsip kerja:
- DAC:
Mengubah sinyal digital (biner) ke analog menggunakan jaringan resistor
berbobot atau *R-2R ladder*. Parameter kunci meliputi resolusi (bit)
dan settling time.
- ADC:
Proses sebaliknya, dengan teknik seperti successive approximation dan flash
conversion. Faktor akurasi dan kecepatan sampel menjadi pertimbangan
utama.
Chapter ini juga menyentuh IC timer (555) dan aplikasinya sebagai multivibrator (astabil/monostabil), serta PLL (Phase-Locked Loop) untuk sinkronisasi frekuensi. Contoh penerapan mencakup sistem akuisisi data, komunikasi digital, dan kontrol presisi.
Prinsip Kerja Fig. 13.40
Pada
Gambar 13.40, digunakan op-amp 741 sebagai komparator:
- Input
inverting (−) diberi sinyal AC (misalnya sinusoidal),
- Input
non-inverting (+) dihubungkan ke ground (0 V) sebagai tegangan referensi,
- Op-amp
disuplai dengan ±12 V.
Cara
kerjanya:
- Saat
tegangan input sinus berada di bawah 0 V (lebih negatif dari referensi),
output op-amp akan naik ke +12 V (positif saturasi).
- Saat
tegangan input sinus melewati 0 V ke atas (lebih positif dari referensi),
output akan turun ke −12 V (negatif saturasi).
Dengan kata lain, komparator ini bertindak sebagai detektor nol (zero-crossing detector), mengubah bentuk sinusoidal menjadi sinyal digital kotak.
Prinsip Kerja Fig. 13.41
Pada
Gambar 13.41, digunakan op-amp (atau komparator seperti LM311/LM339) dengan:
- Input
non-inverting (+) diberi sinyal sinusoidal,
- Input
inverting (−) dihubungkan ke ground (0 V) sebagai referensi,
- Output
dihubungkan ke +5 V melalui resistor pull-up 1 kΩ.
Cara
kerjanya:
- Saat
tegangan input (+) lebih besar dari 0 V, output transistor internal
komparator terbuka (open-collector), dan output ditarik ke +5 V → level
logika tinggi.
- Saat
tegangan input (+) lebih kecil dari 0 V, transistor internal aktif
(saturasi), dan output ditarik ke ground → level logika rendah.
Hasilnya adalah gelombang kotak logika (0 V dan +5 V), cocok untuk antarmuka digital.
13.40
– Komparator dengan Input Inverting (−)
Komparator
ini menggunakan op-amp 741 yang menerima input sinusoidal pada terminal
inverting (−), sedangkan terminal non-inverting (+) dihubungkan ke ground
sebagai referensi. Ketika sinyal input lebih kecil dari 0 V, output menjadi
tegangan tinggi (+12 V). Sebaliknya, ketika sinyal input lebih besar dari 0 V,
output turun ke tegangan rendah (−12 V). Hasilnya adalah gelombang persegi
berdasarkan titik nol sinyal input.
Karakteristik:
- Input
AC ke terminal (−), referensi 0 V ke terminal (+).
- Output:
+12 V saat input < 0 V, −12 V saat input > 0 V.
- Fungsi:
Zero-crossing detector.
Aplikasi:
- Konversi
sinyal AC ke bentuk digital.
- Deteksi
perubahan polaritas.
- Sistem sensor analog dasar.
13.41
– Komparator dengan Input Non-inverting (+)
Pada
konfigurasi ini, input sinusoidal diberikan ke terminal non-inverting (+), dan
terminal inverting (−) tetap pada ground. Output dikendalikan oleh transistor
internal komparator (seperti LM311/LM339) yang dihubungkan ke +5 V melalui
resistor pull-up 1 kΩ. Saat input > 0 V, output menjadi logika tinggi (+5
V). Saat input < 0 V, transistor aktif dan output ditarik ke 0 V.
Karakteristik:
- Input
AC ke terminal (+), referensi 0 V ke terminal (−).
- Output:
0 V atau +5 V (logika digital) tergantung input.
- Cocok
untuk antarmuka digital atau mikrokontroler.
Aplikasi:
- Deteksi
level sinyal analog terhadap ambang 0 V.
- Konversi
sinyal analog ke sinyal digital.
- Interfacing sensor ke sistem logika digital.
EXAMPLE
PROBLEM
1. Pada
rangkaian op-amp non-inverting dengan Rf=10kΩ, R1=2kΩ, berapa
penguatannya?
Jawaban:
2. Untuk
mendapatkan penguatan 6x dari sinyal input 200 mV, danR1=2kΩ, berapa Rf?
Jawaban:
3. Tentukan
tegangan output Vo dari rangkaian tersebut!
Jawaban:
PILIHAN GANDA
Fig. 13.40 (741 Op-Amp Comparator)
1. Apa fungsi utama dari rangkaian pada Fig. 13.40?
A. Penguat sinyal AC
B. Penyearah gelombang
C. Komparator untuk mendeteksi perbedaan tegangan input
D. Filter low-pass
Jawaban: C
Penjelasan: Rangkaian ini menggunakan op-amp 741 sebagai komparator, bukan sebagai penguat. Fungsinya membandingkan dua tegangan input (pada input + dan −) dan menghasilkan output tinggi atau rendah tergantung mana yang lebih besar.
2.
Jika input sinusoidal masuk ke terminal inverting (−), dan input non-inverting
(+) dihubungkan ke 0 V, bagaimana bentuk output?
A. Sinusoidal teredam
B. Gelombang persegi tergantung crossing sinus terhadap 0 V
C. DC konstan
D. Gelombang segitiga
Jawaban: B
Penjelasan: Karena tegangan referensi (pada +) adalah 0 V, maka saat input sinusoidal (pada −) naik melewati 0 V, output akan berubah dari positif ke negatif (dan sebaliknya). Ini menghasilkan gelombang persegi (square wave) tergantung titik crossing dari input sinus.
3.
Apa akibat jika amplitudo input sinus lebih kecil dari tegangan referensi pada
input non-inverting?
A. Output tetap tinggi
B. Output tetap rendah
C. Output berubah-ubah
D. Tidak ada output
Jawaban: B
Penjelasan: Jika input sinus tidak pernah
melebihi tegangan referensi (0 V pada input +), maka input − selalu lebih
kecil, sehingga output op-amp tetap negatif (low) sepanjang waktu. Maka output
tidak pernah berubah (tetap di level rendah).
Fig. 13.41 (Comparator dengan pull-up resistor)
1. Mengapa digunakan resistor 1 kΩ yang terhubung ke +5V pada Fig. 13.41?
A. Untuk menghindari korsleting
B. Untuk membatasi arus ke input
C. Sebagai pull-up agar output tetap logika tinggi saat output open-collector
tidak aktif
D. Sebagai beban untuk filter
Jawaban: C
Penjelasan: Rangkaian ini menggunakan komparator dengan output open-collector, yang tidak bisa mengeluarkan logika tinggi secara langsung. Oleh karena itu, resistor pull-up diperlukan untuk menarik output ke +5V saat transistor internal tidak aktif.
2. Jika tegangan pada terminal non-inverting (+) lebih besar dari pada terminal
inverting (−), maka:
A. Output berada pada tegangan −5 V
B. Output terbuka (open collector) dan ditarik ke +5 V oleh resistor
C. Output dalam kondisi tidak pasti
D. Output menghasilkan gelombang sinus
Jawaban: B
Penjelasan: Saat tegangan (+) > (−), maka
output transistor pada komparator tidak aktif (cut-off), sehingga output tidak
dihubungkan ke ground. Akibatnya, resistor pull-up menarik output ke +5V →
logika tinggi.
3. Karakteristik output dari komparator open-collector seperti pada Fig. 13.41
adalah:
A. Bisa langsung menghasilkan tegangan positif
B. Selalu menghasilkan tegangan negatif
C. Hanya bisa menarik arus ke ground (logika rendah) dan memerlukan resistor
pull-up
D. Tidak membutuhkan resistor eksternal
Jawaban: C
Penjelasan: Output open-collector bersifat sink-only, artinya hanya bisa menarik arus ke bawah (ground) saat aktif. Saat tidak aktif, output “terbuka” (high impedance), sehingga perlu resistor pull-up untuk menghasilkan logika tinggi.











Komentar
Posting Komentar