chapter 17 (17.64)


1. Pendahuluan[Kembali]

 Dalam dunia elektronika, semikonduktor memiliki peran penting sebagai bahan dasar untuk berbagai komponen aktif. Salah satu jenis perangkat semikonduktor yang memiliki aplikasi luas adalah PNPN devices, yang sering disebut juga dengan thyristors. Perangkat ini terdiri dari empat lapisan semikonduktor yang membentuk struktur PNPN, dan memiliki kemampuan untuk mengendalikan arus listrik secara efektif. Thyristor dan perangkat sejenis lainnya seperti diode, transistor, dan triac digunakan dalam berbagai aplikasi, seperti pengaturan daya, proteksi rangkaian, dan kontrol motor.

    Struktur dasar PNPN menggabungkan dua dioda dalam konfigurasi yang saling berhubungan, dan komponen ini memiliki kemampuan untuk menyala dan mati (on-off switching) dengan hanya sedikit kontrol eksternal. Prinsip kerja perangkat semikonduktor ini sering kali bergantung pada efek pemicu (triggering) yang membuat perangkat beralih antara kondisi on dan off.

    Perangkat semikonduktor lainnya, seperti diodetransistor, dan triac, memiliki prinsip kerja yang mirip namun dengan karakteristik dan aplikasi yang berbeda. Masing-masing perangkat ini memainkan peranannya dalam pengaturan, penguatan, dan switching sinyal serta daya dalam sistem elektronika.

2. Tujuan[Kembali]

  1. Memahami struktur, prinsip kerja, dan aplikasi dari perangkat semikonduktor PNPN seperti thyristor dan perangkat lainnya.
  2. Mempelajari cara kerja diodetransistorthyristortriac, dan SCR (Silicon Controlled Rectifier) dalam rangkaian elektronika.
  3. Mengenal aplikasi praktis dari perangkat semikonduktor ini dalam pengaturan daya, penguatan sinyal, dan proteksi rangkaian.
  4. Mengamati karakteristik tegangan dan arus pada perangkat semikonduktor melalui eksperimen atau simulasi.
  5. Memahami penggunaan triggering untuk mengendalikan perangkat PNPN dalam sistem kontrol daya.

 

3. Alat dan Bahan[Kembali]

1. Software Proteus

    Proteus adalah perangkat lunak simulasi elektronik yang digunakan untuk merancang, menguji, dan memvisualisasikan rangkaian elektronik secara virtual. Software ini mendukung simulasi berbagai komponen, termasuk mikrokontroler, sehingga memudahkan pengguna dalam merancang dan menguji sistem tanpa perlu merakitnya secara fisik terlebih dahulu.


2. Power Supply

    Power supply adalah perangkat yang menyediakan daya listrik untuk rangkaian atau sistem elektronik. Fungsinya adalah mengubah sumber daya listrik, seperti listrik AC dari jaringan listrik, menjadi tegangan DC (arus searah) yang dibutuhkan oleh komponen elektronik dalam perangkat. Power supply juga dapat mengatur tegangan dan arus untuk memastikan bahwa perangkat menerima daya yang stabil dan sesuai dengan kebutuhan operasionalnya. 


3. Op-Amp


    Op-amp adalah suatu komponen elektronik analog yang berfungsi sebagai penguat tegangan. Komponen ini memiliki dua terminal input, yaitu inverting input (-) dan non-inverting input (+), serta satu terminal output.

4. Resistor

    Resistor adalah komponen elektronik pasif yang berfungsi untuk menghambat aliran arus listrik dalam suatu rangkaian. Nilai hambatan pada resistor dinyatakan dalam satuan ohm (Ω). Resistor digunakan untuk mengatur arus, membagi tegangan, serta melindungi komponen lain dari arus berlebih. 




5. Probe Voltage

    Probe voltage adalah alat ukur virtual yang digunakan dalam simulasi rangkaian elektronik untuk mengamati atau memantau nilai tegangan pada titik tertentu. Alat ini berfungsi tanpa memengaruhi jalannya rangkaian dan umumnya digunakan dalam perangkat lunak simulasi seperti Proteus. Probe voltage memungkinkan pengguna melihat perubahan tegangan secara langsung selama simulasi, baik dalam bentuk angka maupun grafik, sehingga memudahkan analisis dan evaluasi kinerja rangkaian.

6. Relay
    
    Relay adalah sakelar elektrik yang berfungsi untuk mengontrol aliran listrik dalam rangkaian menggunakan sinyal listrik lainnya. Secara umum, relay terdiri dari kumparan (koil) yang, saat dialiri arus, akan menghasilkan medan magnet yang menarik atau melepaskan kontak sakelar untuk menghubungkan atau memutuskan aliran listrik di rangkaian lain. Relay sering digunakan untuk mengendalikan perangkat listrik berdaya besar menggunakan sinyal listrik berdaya kecil, misalnya dalam sistem otomasi, kontrol motor, dan perangkat elektronik lainnya.




7. Silicon Controlled Rectifier

    SCR (Silicon Controlled Rectifier) adalah komponen semikonduktor yang berfungsi sebagai sakelar elektronik. SCR memiliki tiga terminal: anoda, katoda, dan gate. Arus mengalir dari anoda ke katoda hanya jika SCR diberi sinyal pemicu pada gate. Setelah aktif, SCR tetap menghantar hingga arus utama diputus. SCR banyak digunakan dalam pengendalian daya, seperti pengatur kecepatan motor, dimmer lampu, dan sistem penyearah.



8. Ground

    Ground dalam elektronik adalah titik referensi tegangan dalam suatu rangkaian, biasanya dianggap memiliki tegangan nol volt. Ground berfungsi sebagai jalur kembali arus listrik dan sebagai acuan untuk mengukur tegangan komponen lain dalam rangkaian.


4. Dasar Teori[Kembali]

CHAPTER 17: TRANSISTOR FET (FIELD EFFECT TRANSISTOR)

Chapter 17 membahas Transistor Efek Medan (FET), yang merupakan jenis transistor unipolar yang hanya mengandalkan satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole) untuk operasinya. FET memiliki karakteristik yang berbeda dari BJT (Bipolar Junction Transistor) yang dibahas di chapter sebelumnya, terutama dalam hal impedansi input yang sangat tinggi dan ketergantungan pada tegangan (bukan arus) untuk pengontrolannya.

Jenis-Jenis FET

  1. JFET (Junction Field-Effect Transistor)
    • Terdiri dari dua tipe: n-channel dan p-channel.
    • Operasinya dikendalikan oleh tegangan gerbang (gate) yang membalikkan bias junction.
    • Memiliki tiga terminal: Gate (G), Drain (D), dan Source (S).
    • Karakteristik penting meliputi VGS(off) (tegangan pinch-off) dan IDSS (arus drain saat VGS = 0).
  2. MOSFET (Metal-Oxide-Semiconductor FET)
    • Dibagi menjadi MOSFET Depletion-mode dan Enhancement-mode.
    • Depletion-mode: Dapat beroperasi dengan tegangan gerbang positif atau negatif.
    • Enhancement-mode: Hanya aktif saat tegangan gerbang melebihi threshold voltage (Vth).
    • MOSFET sangat dominan dalam aplikasi digital dan daya tinggi karena efisiensi dan kecepatan switching-nya.

Karakteristik dan Parameter FET

  • Kurva Transfer: Menunjukkan hubungan antara VGS (tegangan gate-source) dan ID (arus drain).
  • Transconductance (gm): Ukuran seberapa besar arus drain berubah terhadap perubahan tegangan gate.
  • Impedansi Input: Sangat tinggi (hingga orde megaohm atau gigaohm), membuat FET ideal untuk aplikasi penguat sinyal kecil.

Aplikasi FET

  1. Penguat (Amplifiers)
    • FET digunakan dalam penguat sinyal kecil karena noise-nya yang rendah dan impedansi input tinggi.
    • Contoh: Common-Source, Common-Drain (Source Follower), dan Common-Gate configurations.
  2. Saklar (Switches)
    • MOSFET, khususnya, banyak digunakan dalam rangkaian digital (sebagai komponen dasar CMOS) dan power switching.
  3. Pengaturan Impedansi
    • JFET sering dipakai dalam rangkaian buffer atau pengatur impedansi karena karakteristiknya yang linear.

Perbandingan FET vs. BJT

Parameter

FET

BJT

Jenis Pembawa

Unipolar (hanya elektron atau hole)

Bipolar (elektron dan hole)

Kontrol

Tegangan (VGS)

Arus (IB)

Impedansi Input

Sangat Tinggi (≈MΩ-GΩ)

Rendah (≈kΩ)

Noise

Rendah

Lebih Tinggi

Aplikasi

Penguat sinyal kecil, switching

Penguat daya, switching

Keunggulan FET

  • Konsumsi daya rendah karena arus gate yang hampir nol.
  • Stabilitas termal lebih baik dibanding BJT.
  • Lebih tahan terhadap radiasi, membuatnya cocok untuk aplikasi khusus.

Chapter 17 membahas secara mendalam tentang Field Effect Transistor (FET), keluarga transistor yang bekerja berdasarkan prinsip medan listrik untuk mengontrol aliran arus. Berbeda dengan BJT yang merupakan perangkat bipolar, FET termasuk dalam kategori transistor unipolar karena hanya menggunakan satu jenis pembawa muatan (elektron atau hole) dalam operasinya. Karakteristik utama FET yang dibahas di chapter ini mencakup impedansi input yang sangat tinggi dan pengontrolan melalui tegangan (bukan arus seperti pada BJT).

Bagian pertama chapter ini menjelaskan dua jenis utama FET. Junction FET (JFET) bekerja dengan mengontrol lebar saluran konduksi melalui bias reverse pada junction PN. Terdapat dua variasi JFET yaitu tipe n-channel dan p-channel, masing-masing memiliki karakteristik arus-tegangan yang spesifik. Metal-Oxide-Semiconductor FET (MOSFET) menawarkan keunggulan lebih besar dengan struktur isolasi gate-nya. MOSFET dibagi menjadi depletion-mode yang dapat bekerja dengan bias positif maupun negatif, dan enhancement-mode yang hanya aktif ketika tegangan gate melebihi nilai threshold tertentu.

Analisis DC dan AC FET menjadi fokus utama chapter ini. Untuk analisis DC, dibahas metode penentuan titik kerja (bias point) menggunakan teknik seperti fixed bias, self bias, dan voltage divider bias. Model sinyal kecil FET diperkenalkan untuk menganalisis parameter AC seperti transkonduktansi (gm) dan resistansi output (rd). Karakteristik transfer FET yang nonlinear juga dijelaskan secara detail, termasuk daerah cut-off, triode, dan saturasi.

Chapter ini juga membahas berbagai aplikasi praktis FET. Sebagai penguat, FET digunakan dalam tiga konfigurasi dasar: common-source (penguat tegangan), common-drain (source follower), dan common-gate (penguat arus). Keunggulan FET dalam aplikasi switching ditonjolkan, terutama untuk MOSFET yang menjadi komponen kunci dalam gerbang logika digital CMOS. Aplikasi khusus lainnya termasuk penggunaan FET sebagai resistor terkontrol tegangan (VVR) dan dalam rangkaian analog switch.

Keunggulan FET dibanding BJT dianalisis secara komprehensif, termasuk:

  1. Impedansi input yang sangat tinggi (hingga orde gigaohm)
  2. Karakteristik switching yang lebih cepat
  3. Efek noise yang lebih rendah
  4. Konsumsi daya yang lebih efisien
  5. Stabilitas termal yang lebih baik

 5. Prinsip Kerja[Kembali]

Prinsip Kerja Relaxation Oscillator (PUT – Programmable Unijunction Transistor)

Relaxation Oscillator dengan PUT (Programmable Unijunction Transistor) adalah rangkaian yang menghasilkan sinyal osilasi periodik berbasis pengisian dan pengosongan kapasitor. Rangkaian ini memanfaatkan karakteristik PUT yang akan menyala (conduct) ketika tegangan pada terminal anoda melebihi tegangan pada terminal gate.

Komponen Utama:

  • PUT (Programmable Unijunction Transistor) sebagai saklar yang dikendalikan tegangan.
  • R dan C membentuk rangkaian pengisi tegangan (charging).
  • RB1 dan RB2 sebagai pembagi tegangan untuk mengatur level trigger PUT.
  • RK sebagai resistor beban PUT saat konduksi.

Cara Kerja:

  1. Saat daya (VBB) pertama kali diberikan:
    • Kapasitor C mulai terisi melalui resistor R menuju tegangan VBB.
    • Tidak ada arus yang mengalir melalui PUT karena PUT masih dalam keadaan OFF.
  2. Pengisian Kapasitor:
    • Tegangan pada kapasitor (dan titik A) meningkat secara eksponensial terhadap waktu.
    • Tegangan ini terus naik hingga mencapai tegangan trigger VP dari PUT, yang ditentukan oleh tegangan di gate:


  3. Saat VA > VP (titik picu PUT):
    • PUT mulai konduksi, dan kapasitor segera mengosongkan muatan melalui PUT dan resistor RK.
    • Tegangan kapasitor turun drastis hampir ke nol.
  4. Siklus berulang:
    • Setelah kapasitor habis, PUT kembali OFF.
    • Kapasitor mulai mengisi ulang kembali dari nol, dan proses berulang menciptakan osilasi periodik.

 

Persamaan Periode Osilasi:

Periode satu siklus pengisian hingga picu diberikan oleh:


Karakteristik Output:

  • Menghasilkan pulsa tegangan periodik.
  • Frekuensi osilasi tergantung pada nilai R, C, dan pembagi tegangan RB1-RB2.
  • Frekuensi mudah diatur dengan mengubah nilai R atau C.
  • PUT bertindak sebagai saklar tegangan, bukan penguat.

 

Contoh Aplikasi/Rangkaian Relaxation Oscillator:

  • Generator Pulsa (Pulse Generator): Menghasilkan pulsa untuk rangkaian digital.
  • Timer atau Delay Circuit: Untuk memberikan waktu tunda dalam sistem otomatis.
  • Flasher/Lampu Berkedip: Pada sistem peringatan visual.
  • Nada/Sinyal Osilasi: Sebagai bagian dari generator suara sederhana.

 

 6. Ringkasan [Kembali]

17.64 – PUT Relaxation Oscillator

Deskripsi Umum:
PUT (Programmable Unijunction Transistor) relaxation oscillator adalah rangkaian osilator sederhana yang menghasilkan pulsa periodik berdasarkan proses pengisian dan pengosongan kapasitor. Rangkaian ini terdiri dari resistor, kapasitor, dan PUT yang bekerja sebagai saklar elektronik. Saat tegangan kapasitor mencapai ambang tertentu, PUT menghantarkan dan membuang muatan kapasitor, menciptakan sinyal osilasi berulang. Cocok untuk aplikasi yang memerlukan sinyal timing, pulse generator, atau flasher.

 

Rumus Periode Osilasi (T):

 

Keterangan:

  • T: Periode satu siklus osilasi
  • R, C: Komponen resistor dan kapasitor yang menentukan waktu pengisian
  • VBB: Tegangan suplai
  • VP: Tegangan picu (trigger) PUT
  • RB1, RB2: Resistor pembagi tegangan untuk mengatur tegangan gate
  • η: Rasio RB1 terhadap total RB1 + RB2 → menentukan tegangan trigger

Karakteristik Tambahan:

  • Menghasilkan pulsa periodik secara otomatis (relaksasi).
  • Frekuensi osilasi tergantung pada nilai R, C, dan pembagi tegangan.
  • PUT bekerja sebagai saklar: ON ketika tegangan mencapai VP.
  • Sinyal output bisa digunakan untuk mengaktifkan komponen lain (misal LED, buzzer).

Aplikasi PUT Relaxation Oscillator:

  • Pulse Generator: Menghasilkan pulsa untuk sistem logika atau kontrol.
  • Timer Sederhana: Digunakan dalam rangkaian penundaan atau waktu tunda.
  • Flasher Elektronik: Untuk lampu berkedip pada mainan atau peringatan.
  • Nada Osilasi Sederhana: Sebagai sumber sinyal frekuensi tetap pada alarm.
  • Pemicu Sistem Digital: Sebagai clock sinyal atau timing eksternal.

7. Soal Latihan[Kembali]

EXAMPLE

Example 1

Example 2



Example 3

PROBLEM


PILIHAN GANDA

fig 17.64 (PUT Relaxation Oscillator)

1. Apa fungsi utama kapasitor C dalam rangkaian PUT Relaxation Oscillator pada Gambar 17.64?
A. Menstabilkan arus PUT
B. Menyimpan energi untuk mencatu PUT
C. Mengatur periode osilasi dengan cara mengisi dan mengosongkan muatan
D. Mengurangi tegangan VBB

Jawaban: C. Mengatur periode osilasi dengan cara mengisi dan mengosongkan muatan
Penjelasan: Kapasitor C akan mengisi menuju VBB, dan ketika tegangan melintasinya mencapai tegangan firing VP, PUT akan menghantar, dan kapasitor akan segera mengosongkan muatannya. Proses ini berulang dan menentukan periode T osilasi.

2. Supaya osilasi terjadi, nilai resistor R harus memenuhi syarat...
A. R>Rmax
B. R=Rmin
C. Rmin<R<Rmax
D. R<Rmin

Jawaban: C. Rmin<R<Rmax
Penjelasan: Jika R>Rmax, arus tidak cukup untuk menyalakan PUT saat VP tercapai. Jika R<Rmin, maka PUT tidak akan bisa mati (off). Jadi agar terjadi osilasi, R harus di antara Rmin dan Rmax.

3. Apa yang terjadi saat tegangan pada kapasitor mencapai VP?
A. PUT menjadi tidak aktif dan kapasitor mulai mengisi lagi
B. PUT menghantar dan kapasitor segera mengosongkan muatannya
C. Tegangan VBB menjadi nol
D. Arus ke kapasitor berhenti

Jawaban: B. PUT menghantar dan kapasitor segera mengosongkan muatannya
Penjelasan: Saat VC=VP, PUT menyalakan arus IA=IP, menyebabkan kapasitor membuang muatannya melalui PUT dengan cepat.


Fig 17.64



rangkaian 17.64 [download]


 






























Komentar

Postingan populer dari blog ini